Yuk Kenali Sentra Keramik Kiaracondong Sejak 1960

Sponsored Link
Ads[300x250]

DI antara labirin padatnya permukiman penduduk di sekitar Stasiun Kiaracondong, Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, terdapat salah satu industri rumahan keramik yang telah berdiri sejak 1960-an. Dan mencapai masa keemasan pada era 1970-an.

Awalnya, sentra keramik itu ada sebagai salah satu usaha turun temurun keluarga besar salah satu warganya, Oma Rukman (74) dan tak ada yang menyangka kini usaha warisan itu berkembang hingga tiga generesi.

“Dulunya usaha ini dari ayah saya dan tidak disangka usaha ini sudah sampai ke tangan cucu,” kata Oma.

Pada pertengahan tahun 1970-an hingga 1990-an, banyak sekali perajin keramik yang bekerja di tempatnya namun seiring waktu, perajin yang bekerja di tempatnya kini hanya tersisa 6 hingga 7 orang.

Sentra keramik yang telah berumur 45 tahun itu memproduksi berbagai macam produk keramik diantaranya pot bunga, guci, tempat duduk, tempat payung, jembangan, mug, hingga cenderamata untuk acara pernikahan.

Harga satu keramik di tempat itu pun tidak ada perubahan besar kecuali mengikuti daftar harga terbaru inflasi dari tahun 1970 hingga saat ini.

“Saya dari dulu tidak pernah mengubah harga soalnya bapak tidak memikirkan untung, yang penting usaha warisan ini tetap jalan,“ ucapnya.


Ketika ditanya tentang ada tidak keingin memperbesar usaha, dengan santai ia menjawab, “Kalau bapak tidak ada niat untuk memperbesar usaha. Ini saja sudah cukup. Saya bersyukur pada Yang Di Atas tapi mungkin nanti oleh anak dan cucu akan dikembangkan.”

Kini, perbedaan dari usaha itu terlihat dari bahan dasarnya. Sebelumnya, bahannya berupa minyak tanah dan gerabah dari Tasikmalayasementara bahan yang di gunakan untuk pembuatan keramik sekarang didapat dari Sukabumi dan Bangka Belitung. Bahkan, bahannya pernah didapat dari Jepang demi menjaga kualitas.

Seiring berjalannya waktu, pemasaran dan penjualannya juga mulai berkurang. Dahulu, penjualan di tempat Oma telah sampai ke beberapa luar negeri seperti Prancis, Amerika, dan Kanada. Sementara di Indonesia, sudah hampir ke seluruh daerah.


Oma menceritakan, selama pengalamannya menjadi pengusaha keramik, ia paham betul perbedaan bahan keramik luar negeri dan bahan keramik dari Indonesia.

“Bagi saya, dari pengalaman yang sudah sudah, pembuatan keramik di Indonesia jauh lebih mengedepankan motif karena keramiknya dicanting  atau diukir langsung menggunakan tangan perajin dengan motif batik. Kalau di luar negeri, keramiknya disablon,“ ujarnya.
Ads[300x250]